• SMA NEGERI 3 CIKARANG UTARA
  • Preparing The Bright Future

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM

Syahyudin

Program Studi Pendidikan Matematika PPG PT-Universitas Negeri Jakarta

Jl. Rawamangun Muka, Jakarta Selatan-13220, [email protected]

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada Materi Matriks kelas XI MIPA 6 di SMA Negeri 3Cikarang Utara melalui penerapan model pembelajaran Flipped Classroom.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Mc Taggart yang dilakukan dalam tiga siklus penelitian. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA 6 di SMA Negeri 3Cikarang Utara Tahun Pelajaran 2020/2021 yang berjumlah 36 peserta didik. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi untuk pelaksanaan pembelajaran dan keaktifan siswa, tes untuk kompetensi kognitif, dan dokumentasi. Indikator keberhasilan penelitian ini sebesar lebih dari sama dengan dari 75% peserta didik mencapai KKM sebesar 70.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penerapan metode pembelajaran Flipped Classroom dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran Matematika. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil tes koognitif tiap siklus, dimana mengalami peningkatan hasil belajar tiap siklus. (1) Persentasi ketuntasan pada siklus 1 sebesar 69,44%,siklus 2 sebesar 86,44% dan siklus 3 sebesar 94,44%; (2) adanya peningkatan rata-rata kelas dan ketuntasan belajar peserta didik. Rata-rata kelas pada siklus 1 sebesar 70,83, siklus 2 sebesar 83,18 dan siklus 3 sebesar 83,78.

Kata kunci: Flipped Classroom, Hasil Belajar, Matematika,

 

Abstack

This study aims to improve student learning outcomes in the Matrix Material for class XI MIPA 6 at SMA Negeri 3 Cikarang Utara through the application of the Flipped Classroom learning model.

This research is a Classroom Action Research (PTK) with the model of Kemmis and Mc Taggart which was conducted in three research cycles. The subjects of this study were students of class XI MIPA 6 at SMA Negeri 3 Cikarang Utara in the academic year 2020/2021, totaling 36 students. Data collection techniques in this study used observation for the implementation of learning and student activeness, tests for cognitive competence, and documentation. The indicator of the success of this study is more than the same as 75% of students achieving a KKM of 70.The results showed that through the application of the Flipped Classroom learning method can improve student learning outcomes in Mathematics subjects. This can be seen from the results of the coognitive test for each cycle, which has increased learning outcomes for each cycle. (1) The percentage of completeness in cycle 1 was 69.44%, cycle 2 was 86.44% and cycle 3 was 94.44%; (2) there is an increase in the class average and students' learning completeness. The class average in cycle 1 was 70.83, cycle 2 was 83.18 and cycle 3 was 83.78.Keyword : Flipped Classroom, Mathematic, Studying Result 


  1. PENDAHULUAN Latar Belakang MasalahSesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, salah satu tujuan yang hendak dicapai dari pembangunan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini mengandung pengertian yang luas bahwa bangsa yang cerdas dan berkompetensi, yang ditandai dengan adanya kemampuan berfikir, kepribadian yang bagus dan memiliki ketrampilan menjadi tujuan dari pembangunan tersebut.Sejalan dengan itu perbaikan dan penyesuaian kurikulum nasional terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman. Dinamika pendidikan dewasa ini ditandai dengan suatu pembaharuan dan transformasi pemikiran tentang hakekat pembelajaran sebagai suatu proses yang aktif, interaktif dan konstruktif. Titik central setiap peristiwa pembelajaran terletak pada keberhasilan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalamannya, mengembangkan kemampuan berfikir dan mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.Sebagaimanakitaketahuibahwapembelajaranperludirancangagarpeserta didik dapat membangun pengetahuannya sehingga pembelajaran dapat berpusat pada peserta didik. Kegiatan belajar seharusnya dirancang bervariasi agar memungkinkan pembelajar untuk mendapatkan pengalaman yang bervariasipula.MenurutForsyth,Jolliffe,&Stevens(2004:69),“learningis In order to learn a person has to take part in various learning activities. Interaction is an essential element of learning”. Pendapat tersebut memberi pengertian bahwa belajar merupakan suatu proses aktif. Untuk belajar, seseorang perlu mengambil bagian dalam berbagai aktivitas belajar. Interaksi merupakan unsur penting dalam belajar. Akibatnya, seseorang perlu berinteraksi secara langsung dengan apa yang sedang dipelajarinya. Keterlibatan pembelajar dalam aktivitas secara aktif dapat membantunya untuk belajar. Kegiatan belajar seharusnya dirancang agar bervariasi agar memungkinkan pembelajar untuk mendapatkan pengalaman yang bervariasi pula.Berkaitan dengan proses pembelajaran yang terjadi saat ini, memang tidak bisadipungkiri terlalu banyak hambatan yang menghalangi tercapainya hasil belajar yangoptimal. Tidak hanya pada mata pelajaran matematika hampir semua guru matapelajaran lainnya pun merasakan hal yang sama. Berbagai kendala dirasakan dalampelaksanaan pembelajaran jarak jauh, mulai dari ketersedian perangkat maupunkesanggupan peserta didik mengikuti proses pembelajaran secara daring. Di awalpenerapan pembelajaran jarak jauh. metode yang dipilih sekolah kami yakni menggunakan google classroom sebagai kelas maya yang dimanfaatkan untuk pemberian materi berupa dokumen digital atau disebut e_modul dan e-book serta tugas-tugas pelajaran kepada peserta didik dan peserta didik belajar secara mandiri. Setelah berlangsung beberapabulan, kami merasa metode ini kurang efektif karena minimnya penjelasan sebagai penguatan yangdiberikan oleh guru dan tingkat kejenuhan peserta didik yang sangat tinggi sehingga sering kali peserta didik mengabaikan kegiatan pembelajaran seperti ini.

Metode pembelajaran flipped classroom merupakan bentuk pembelajaran blended learning yang menggabungkan pembelajaran sinkron (synchronous) dengan pembelajaran mandiri yang askinkron (asynchronous). Pembelajaran sinkron biasanya terjadi secara real time di kelas, tetapi di masa pandemi ini dilakukan melalui teleconference via zoom meeting atau google meet. Peserta didik dapat berinteraksi dengan seorang pengajar dan teman sekelas serta menerima umpan balik pada saat yang sama. Sedangkan, pembelajaran asinkron adalah pembelajaran yang sifatnya lebih mandiri. Konten biasanya diakses melalui beberapa bentuk media pada platform digital.

Peserta didik dapat memilih kapan mereka belajar dan juga mereka dapat mengajukan pertanyaan di kolom komentar, serta berbagi ide atau pemahaman mereka tentang sebuah materi dengan pengajar atau teman sekelas. Sedangkan, umpan balik akan diterima mereka tidak pada saat yang sama.

Dari latar belakang masalah tersebut, maka peneliti merasa terdorong untuk melakukan tindakan penelitian. Metode pembelajaran flipped classroom mungkin bisa menjadi salah satu alternatif untuk menyelesaikan permasalahan diatas dengan menggabungkan kegiatan pembelajaran sinkron melalui Video Converence dan asinkron  diharapkan dapat meningkatan hasil belajar pesertadidikdikelasXIMIPA6khususnyadanpesertadidikSMANegeri3Cikarang Utara padaumumnya.

  1. Identifikasi Masalah Motivasi belajar peserta didik yang kian menurun akibat banyaknya kendala dalam pembelajaran jarak jauh, Hal tersebut terlihat dari persentasi keikutsertaan dalam mengikuti pembelajaran online semakin menurun.      Hanya sebagian peserta didik yang mampu mengikuti pembelajaran jarak jauh secara sinkronous.
  2. Hasil belajar peserta didik rendah yang tergambar dari hasil evaluasi pembelajaran pada setiap pertemuan.
  3. Sistem belajar satu arah yang hanya berupa penugasan membuat anak jenuh sehingga banyak peserta didik yang cenderung mengacuhkan tugas yang diberikan, sehingga pengumpulan tugas menjadi tidak tepat waktu Analisis Masalah

Dari hasil identifikasi masalah yang dilakukan, peneliti memandang bahwa masalah ini berdasar terhadap model dan metode pembelajaran yang paling urgent untuk segera diselesaikan. Dalam hal ini peneliti beranggapan dengan model pembelajaran Flipped Classroom dapat menyelesaikan kendala-kendala belajar peserta didik, sehingga peserta didik dapat menghasilkan hasil pembelajaran yang terbaik. Hal itu dapat dilihat output peserta didik yaitu nilai-nilai yang memuaskan.

  1. Rumusan Masalah

Merujuk pada uraian latar belakang di atas, dapat dikaji ada beberapa permasalahan yang dirumuskan sebagai berikut:

  1. Apakahpengunaanmodel pembelajaran Flipped Classroomdapatmeningkatkanhasilbelajar materi Matriks pada peserta didik kelas XI MIPA 6 SMA Negeri 3 Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun Pelajaran 2020 / 2021?
  2. Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi Matriks dengan menggunakan model pembelajaran Flipped Classroompada peserta didik kelas XI MIPA 6 SMA Negeri 3 Cikarang Utara Kabupaten Bekasi Tahun Pelajaran 2020 / 2021 dimasa pandemic saat ini?
  3. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkanhasil belajar dan kemampuan pemahaman materi Matrikspeserta didik melalui model pembelajaran Flipped Classrom pada peserta didik kelas XI MIPA 6 SMAN 3 Cikarang Utara tahun pelajaran 2020- 2021.

  1. METODOLOGI PENELITIAN

           Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah  Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.

              Tujuan utama PTK adalah untuk memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas. Kegiatan penelitian ini tidak saja bertujuan untuk memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan.

              Secara garis besar ada empat tahapan dalam PTK yang dilakukan secara berulang atau siklus, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

  1. Perencanaan

       Dalam tahap perencanaan ini peneliti menyusun rancangan untuk menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrument untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.

  1. Pelaksanaan tindakan

       Pada tahap pelaksanaan ini rancangan pembelajaran yang telah disusun akan diterapkan.

  1. Pengamatan

       Pengamatan  atau observasi ini sebenarnya dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, kedua tahap ini terlaksana pada waktu yang sama. Peneliti melakukan observasi dan mencatat semua hal yang terjadi pada proses pembelajaran untuk mengumpulkan data.

  1. Refleksi

Tahap refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Refleksi juga bertujuan untuk menemukan hal-hal yang dirasa sudah sesuai dengan rancangan dan secara cermat dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Melalui tahap refleksi seorang peneliti bisa memutuskan apakah penelitian perlu dilanjutkan ke siklus selanjutnya atau sudah cukup dan diakhiri sampai siklus tersebut.III.   HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Adapun peningkatan hasil belajar peserta didik pada siklus 1 dapat dilihat dari hasil tes akhir siklus 1. Berikut tabel  yang menunjukkan hasil tes atau evaluasi pada siklus 1:

 

 

Tabel Distribusi Hasil Tes Siklus 1

NO

Uraian

Data Siklus 1

1

Jumlah Peserta Didik Kelas XI MIPA 6

36

2

Rata – Rata

70, 83

3

Jumlah Peserta Didik yang Tuntas Belajar

25

4

Jumlah Peserta Didik yang Tidak Tuntas Belajar

11

5

Persentasi Ketuntasan dalam kelas

69,44%

 

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar peserta didik adalah 70,83 dan ketuntasan belajar mencapai 69,44 % atau hanya ada 25 peserta didik sudah tuntas belajar dari 36 peserta didik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal peserta didik belum tuntas belajar, karena peserta didik yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 69,44 % lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 75 %.

Peningkatan hasil belajar peserta didik pada siklus 2 dapat dilihat dari hasil tes akhir siklus 2. Berikut tabel  yang menunjukkan hasil tes atau evaluasi pada siklus 2 :

 

Tabel Distribusi Hasil Tes Siklus 2

NO

Uraian

Data Siklus 2

1

Jumlah Peserta Didik Kelas XI MIPA 6

36

2

Rata – Rata

83, 18

3

Jumlah Peserta Didik yang Tuntas Belajar

31

4

Jumlah Peserta Didik yang Tidak Tuntas Belajar

5

5

Persentasi Ketuntasan dalam kelas

86,11%

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar peserta didik adalah 83,18 dan persentasi ketuntasan belajar mencapai 86,11 % dan terdapat 31 peserta didik sudah tuntas belajar dari 36 peserta didik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal peserta didik mengalami ketuntasan belajar, karena peserta didik yang memperoleh nilai ≥ 70 hanya sebesar 86,11 % melebihi target yang telah di tentukan yakni persentasi ketuntasan mencapai 75 % dari jumlah peserta didik dalam satu kelas.

Namun peneliti akan melanjutkan penelitiannya pada siklus 3 dengan tujuan apakah terdapat konsistensi pencapaian hasil belajar pada siklus 3. Berikut tabel  yang menunjukkan hasil tes atau evaluasi pada siklus 3 :

Tabel Distribusi Hasil Tes Siklus 3

NO

Uraian

Data Siklus 3

1

Jumlah Peserta Didik Kelas XI MIPA 6

36

2

Rata – Rata

83, 78

3

Jumlah Peserta Didik yang Tuntas Belajar

31

4

Jumlah Peserta Didik yang Tidak Tuntas Belajar

5

5

Persentasi Ketuntasan dalam kelas

94,44%

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar peserta didik adalah 82,78 dan persentasi ketuntasan belajar mencapai 94,44 % dan terdapat 34 peserta didik sudah tuntas belajar dari 36 peserta didik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal peserta didik mengalami peningkatan ketuntasan belajar yang signifikan, karena persentasi peserta didik yang memperoleh nilai ≥ 70 sebesar 94,44 % melebihi target yang telah di tentukan yakni persentasi ketuntasan mencapai 75 % dari jumlah peserta didik dalam satu kelas dan meningkat pula dari hasil siklus 2.

  1. KESIMPULAN

Dari hasil kegiatan pembelajaran Matematika materi Matriks yang telah dilakukan sebanyak 3 siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penerapan model pembelajaran flipped Classroom pada mata pelajaran Matematika mempunyai pengaruh positif dalam meningkatkan prestasi belajar peserta didik yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar peserta didik dalam setiap tahapnya, yaitu siklus 1 (69, 44%), siklus 2 (84, 44%) dan siklus 3 (94, 44%)
  2. Penerapan model pembelajaran flipped Classroom pada mata pelajaran Matematika mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik yang ditunjukan dengan antusias peserta didik dalam usahanya untuk memahami materi yang belum mereka kuasai dan pada akhirnya mereka dapat menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan materi tersebut.
  3. Model pembelajaran flipped Classroom adalah salah satu model pembelajaran yang efektif dimasa pandemic yang diharuskan pembelajaran dilakukan secara daring. karena dengan model ini peserta didik dapat terlibat langsung dan berperan sangat dominan dalam pembelajaran, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator saja.
  4. Penerapan model pembelajaran flipped Classroom ini bisa meningkatkan penguasaan materi Matriks pada mata pelajaran Matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1988. Pengelolaan Siswa & Kelas (Sebuah Pendekatan Evaluatif).

Jakarta: W. Rajawali.

Harsanto, Ratno. 2007. Pengelolaan Kelas yang Dinamis.Yogyakarta: Kanisius.

Indrajit, Richardus Eko. 2020. Model Pembelajaran Apa Saja yang Cocok Untuk PJJ (sesi 65) Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 pukul 12.59 melalui : https://www.youtube.com/watch?v=8L1MA2eH2xA&t=530s

Manullang, Sudianto dkk. 2017. Buku Siswa Matematika SMA Kelas 11. Jakarta: Kemendikbud.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT Remaja Rosdakarya : Bandung.

Muhtadi, Ali. 2019. Modul Pembelajaran Inovatif. Jakarta : Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mulyasa, E. 2009. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya offset.

Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya offset.

Riadi, Muchlisin. 2020. Model Pembelajaran Flipped Classroom. Diakses pada tanggal 17 Oktober 2020 pukul 22.30 melalui : https://www.kajianpustaka.com/2020/03/model-pembelajaran-flipped-classroom/

Siberrnen, Mel. 2001. Strategi Pembelajaran Aktif. Jakarta; Yakpendis.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka. Undang- Undang

Sanjaya, Wina. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Kencana.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Saputra, M.Eko Arif dkk. 2018. Efektivitas Model Flipped Classroom Menggunakan Video Pembelajaran Matematika terhadap Pemahaman Konsep. Lampung : Universitas Islam Negeri Raden Intan. E-Jurnal Matematika,1(2), 2018, 173 – 179 diakses melalui http://ejournal.radenintan.ac.id/ tanggal 17 Oktober 2020 pukul 16.00 WIB


                

 

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Strategi Komunikasi (Pengertian, Teknik, Langkah dan Hambatan)

Apa itu Strategi Komunikasi?  Strategi komunikasi adalah perencanaan dalam penyampaian pesan melalui kombinasi berbagai unsur komunikasi seperti frekuensi, formalitas, isi dan sal

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 35069 kali
UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI STATISTIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

              UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI STATISTIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARN

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 649 kali
IMPROVING STUDENTS WRITING SKILL OF STATING INTENTION USING AUDIO VISUAL OF THE FIRST GRADE STUDENTS OF X IPA 6 AT SMAN 3 CIKARANG UTARA IN THE 2020/2021 ACADEMIC YEAR

IMPROVING STUDENTS WRITING SKILL OF  STATING INTENTION  USING AUDIO VISUAL OF THE FIRST GRADE STUDENTS OF X IPA 6 AT SMAN 3 CIKARANG UTARA IN THE 2020/2021 ACADEMIC YEAR &nbs

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 1051 kali