• SMA NEGERI 3 CIKARANG UTARA
  • Preparing The Bright Future

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI STATISTIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING

 

 

 

 

 

 

 

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN KOMPETENSI SISWA PADA MATERI STATISTIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN

DISCOVERY LEARNING

 

Selli Selvia

Program Studi Pendidikan Matematika PPG PT-UniversitasPendidikan Indonesia

Jl.Dr. Setiabudi No 229, ISOAL, Kec. Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat 40154selliselvia2@gmail.com

 

ABSTRAK

                Penelitianinibertujuanuntukmeningkatkankeaktifan dan kompetensisiswa pada Materi StatistikaMatematikakelas XIIIPA 4 di SMA Negeri 3Cikarang Utaramelaluipenerapan modelpembelajarandiscovery learning

PenelitianinimerupakanPenelitianTindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan Mc Taggart yang dilakukandalamtiga sikluspenelitian. Subjekpenelitianiniadalahsiswakelas XIIIPA 4 di SMA Negeri 3Cikarang UtaraTahunAjaran 2020/2021 yang berjumlah 31 siswa. Teknik pengumpulan data pada penelitianinimenggunakanobservasiuntukpelaksanaanpembelajaran dan keaktifansiswa, tesuntukkompetensikognitif, dan dokumentasi. Indikatorkeberhasilanpenelitianinisebesarlebihdari 70% keaktifansiswa dan 75% siswamencapai KKM sebesar 70.

Hasil penelitianmenunjukkanbahwamelaluipenerapanmetodepembelajaranDiscovery Learning dapatmeningkatkankeaktifan dan kompetensisiswa pada materi Statistika. Hal tersebutdapatdilihatdari: (1)adanyapeningkatankeaktifansiswa pada tiapsiklus. Keaktifansiswa pada siklus I sebesar65,81%,siklus II sebesar 78,71% dan siklus III sebesar 90,32%; (2) adanyapeningkatan rata-rata kelas dan ketuntasanbelajarsiswa. Rata-rata kelas pada siklus I sebesar62,74 ,siklus II sebesar74,92 dan siklus III sebesar 80,89. Ketuntasanbelajarsiswa yang diukurdenganteskompetensikognitif pada siklus I sebesar 61,29%, siklus II sebesar77,42% dan siklus III 83,87%.

 

Kata kunci: Discovery Learning, Keaktifan, Kompetensi

 

ABSTRACT

This study aimed to iincreasethe activeness and competence of students in the subject of the Statistic in Grade XII of Science 4 of SMA Negeri 3Cikarang Utara through the application of the discovery learning method.

This was a classroom action research (CAR) study using Kemmis and McTaggart’s model conducted in three research cycles. The research subjects were the students in Grade XII of Science 4 of SMA Negeri 3Cikarang Utara in the 2020/2021 academic year with a total of 31 students. The data were collected through observations for the learning implementation and students’ activeness, tests for cognitive competence, and documentation. The indicators of the success of the study were that the students’ activeness was more than 70% and 75% of them attained the minimum mastery criterion (MMC) of 70.

The results of the study were as follows. The application of the Discovery Learningmethodwascapableofimprovingthestudents’activenessandcompetence intheStatistics material.Thiswasindicatedthe factsthat:(1)therewasanimprovementofthestudents’activenessineachcycle; their activeness in Cycle I was 65,81%, cycle II was 78,71%, and that in Cycle III was 90,32%; and (2) therewasanimprovementinthemeanscoreandthestudents’learningmastery; the mean score in Cycle I was 62,74 , cycle II was 74,92 and that in Cycle III was 80,89; thestudents’ learningmasteryasmeasuredbycognitivecompetencetestsinCycleIwas61,29%, cycle II sebesar 77,42% and that in Cycle III was83,87%.

Keywords: Discovery Learning, Activity, Competence

 


  1. PENDAHULUAN LatarBelakangMasalah

Sesuai dengan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, salah satu tujuan yang hendak dicapai dari pembangunan bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, hal ini mengandung pengertian yang luas bahwa bangsa yang cerdas dan berkompetensi, yang ditandai dengan adanya kemampuan berfikir, kepribadian yang bagus dan memiliki ketrampilan menjadi tujuan dari pembangunan tersebut.

Sejalan dengan itu perbaikan dan penyesuaian kurikulum nasional terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman. Dinamika pendidikan dewasa ini ditandai dengan suatu pembaharuan dan transformasi pemikiran tentang hakekat pembelajaran sebagai suatu proses yang aktif, interaktif dan konstruktif.  Titik central setiap peristiwa pembelajaran terletak pada keberhasilan peserta didik dalam mengorganisasikan pengalamannya, mengembangkan kemampuan berfikir dan mengimplementasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pembelajaran perlu dirancang agar peserta didik dapat membangun pengetahuannya sehingga pembelajaran dapat berpusat pada peserta didik.  Kegiatan belajar seharusnya dirancang bervariasi agar memungkinkan pembelajar untuk mendapatkan pengalaman yang bervariasi pula.

Proses pembelajaran tentunya akan dapat dilaksanakan dengan lebih baik apabila telah dirancang dengan baik pula. Selain itu, guru perlu memperluas wawasan tentang berbagai pendekatan, model, metode, maupun strategi pembelajaran. Pembelajaran perlu dibuat agar peserta didik dapat membangun pengetahuannya sehingga pembelajaran dapat berpusat pada peserta didik. Oleh sebab itu, guru perlu mencari cara lain dalam mengajar agar lebih efektif.

Belajar merupakan suatu proses aktif.  Untuk belajar, seseorang perlu mengambil bagian dalam berbagai aktivitas belajar.  Interaksi merupakan unsur penting dalam belajar. Akibatnya, seseorang perlu berinteraksi secara langsung dengan apa yang sedang dipelajarinya. Keterlibatan pembelajar dalam aktivitas secara aktif dapat membantunya untuk belajar. Kegiatan belajar seharusnya dirancang agar bervariasi agar memungkinkan pembelajar untuk mendapatkan pengalaman yang bervariasi pula. Saat ini guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran dituntut untuk selalu kreatif dalam menangani permasalahan-permasalahan dalam pendidikan khususnya

Berdasarkanhasilulangantengah semester (UTS) kelas XII IPA 4 di SMANegeri 3 Cikarang Utara persentasekelulusannyahanya16,2 % dengan rata-rata nilai52,2. Iniberartilebihdarisetengahnilainyamasihdibawah KKM, dimananilai KKM yaitu 70. Padahalpembelajarandinyatakanberhasiljikakelulusan minimum 70% siswadiatas KKM. Lebihlanjut, berdasarkanhasilobservasi, proses pembelajaranmasihbersifatkonvensionaldenganmenggunakanmetodeceramah.

Penggunaanmodel pembelajaran konvesional dengan metodeceramahkurangefektif, karenasiswahanyamendengarkanpendidik yang sedangmenjelaskanpelajaran, sehinggasiswakurangaktifdalam proses pembelajaran. Meskipunpendidikmemberikansesipertanyaanbagisiswa, tetapihanyasiswaaktifsaja yang memanfaatkan Kesempatanbertanya, sedangkansiswa yang kurangaktiflebihmemilih diam sajaataubicaradengansiswalain.

Kurangsesuainya modelpembelajaran yang digunakandengankompetensi yang dipelajarisiswa. Modelpembelajaran yang digunakanmembuatsiswasulitmemahamimateri dan siswahanyapasifdalampembelajaran. Kurangsesuainyainimenyebabkanpembelajarankurangmaksimal dan hasildicapaikurang.

Siswakurangaktifdalam proses pembelajarandapatmenyebabkanmateri yang diterimasiswakurangatautidakdapatdiserapbanyak, karenasiswahanyamendapatkanmateridari guru. Jikasiswalebihaktifdalampembelajaranmakaakanmeningkatkanaktivitasbelajarmengajarsehinggailmu yang diperolehlebihbanyak.

Berdasarkanlatarbelakang dan identifikasimasalah di atasmakapenulismembatasipenelitianhanya pada penggunaan Model pembelajarandiscovery learning. Pemilihan modeldiscovery learning pada penilitianiniuntukmendukungpelaksanaankurikulum 2013 di SMAN 3 Cikarang Utara. Modeldiscovery learning digunakankarenadapatmerangsangsiswauntuklebihaktifdalampembelajaran. Penggunaanmetodediscovery learning juga membuatsiswalebihpercayadirikarenahasil yang didapatdaribelajarmerupakanpenemuansendiri. Selainitupenggunaan model pembelajarandiscovery learning dapatmembuatsiswalebihkreatifkarena materi daripembelajarantidaklangsungdisajikansecaralangsung, tetapisiswaharusmenemukan dan mengolahmateritersebut.

Pada penelitianini juga akanmenelititerkaitkompetensisiswa. Hal inidikarenakanmasihrendahnyakompetensisiswa pada matapelajaranmatematika materi statistika. Penelitianinidibatasi pada kompetensikognitif. Pemilihankompetensi pada ranahkognitifkarena pada ranahtersebutpaling mudahdalammengujinyacukupmenggunakantes. Selainitu proses pengukurankompetensikognitiflebihsingkatdibandingkandenganranah yang lain.

 

  1. RumusanMasalah

Berdasarkanuraian di atas, makarumusanmasalahpenelitianiniadalah:

  1. Apakahpenggunaanmodel pembelajarandiscovery learning pada Materi Statistika kelasKelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Cikarang Utara
  2. Apakahpenggunaan modeldiscovery learning pada Materi Statistika kelasKelas XII IPA 4 SMA Negeri 3 Cikarang Utaradapatmeningkatkankompetensikognitifsiswa TujuanPenelitian

Berdasar atas rumusan masalah di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah:

  1. Peningkatankeaktifansiswa pada materi Statistika denganmenggunakan model pembelajarandiscovery learning pada kelasXII IPA 4 SMA Negeri 3 Cikarang Utara
  2. Peningkatankompetensikognitifsiswamateri Statistika denganmenggunakan model pembelajarandiscovery learning pada kelasXII IPA 4 SMA Negeri 3 Cikarang Utara

 

  1. METODOLOGI PENELITIAN

Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitianinidilakukan terhadap 31 peserta didik kelasXII IPA 4  bertempat di  Kelas XII IPA 4  SMA Negeri 3 Cikarang Utara, Desa Waluya, Kec. Cikarang Utara, Kab. Bekasi,  Propinsi Jawa Barat.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-Nopember semester ganjil Tahun Pelajaran 2020/2021. pada matapelajaranMatematikamateriStatistika Pemusatan Data.         

              Metodepenelitian yang dipakaidalampenelitianiniadalahPenelitianTindakan Kelas (PTK). Penelitiantindakankelasmerupakansuatupencermatanterhadapkegiatanbelajarberupasebuahtindakan yang sengajadimunculkan dan terjadidalamsebuahkelassecarabersama.

         Tujuanutama PTK adalahuntukmemecahkanpermasalahannyata yang terjadi di dalamkelas. Kegiatanpenelitianinitidaksajabertujuanuntukmemecahkanmasalah, tetapisekaligusmencarijawabanilmiahmengapahaltersebutdapatdipecahkandengantindakan yang dilakukan.

         Secaragarisbesaradaempattahapandalam PTK yang dilakukansecaraberulangatausiklus, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

  1. Perencanaan

         Dalamtahapperencanaaninipenelitimenyusunrancanganuntukmenentukantitikataufokusperistiwa yang perlumendapatkanperhatianuntukdiamati, kemudianmembuatsebuah instrument untukmembantupenelitimerekamfakta yang terjadiselamatindakanberlangsung.

  1. Pelaksanaantindakan

         Pada tahappelaksanaaninirancanganpembelajaran yang telahdisusunakanditerapkan.

  1. Pengamatan

         Pengamatanatauobservasiinisebenarnyadilaksanakanbersamaandenganpelaksanaantindakan, keduatahapiniterlaksana pada waktu yang sama. Penelitimelakukanobservasi dan mencatatsemuahal yang terjadi pada proses pembelajaranuntukmengumpulkan data.

  1. Refleksi

Tahaprefleksimerupakankegiatanuntukmengemukakankembaliapa yang sudahdilakukan. Refleksi juga bertujuanuntukmenemukanhal-hal yang dirasasudahsesuaidenganrancangan dan secaracermat dan mengenalihal-hal yang masihperludiperbaiki. Melaluitahaprefleksiseorangpenelitibisamemutuskanapakahpenelitianperludilanjutkankesiklusselanjutnyaatausudahcukup dan diakhirisampaisiklustersebut.

Adapunhal- hal yang harusdipersiapkandalampenelitianinimeliputi:

  1. Perangkatpembelajaran,meliputi:

RencanaPelaksanaanPembelajaran(RPP)denganmengimplementasikanmetodepembelajarandiscoverylearning.

  1. Menyiapkanmateri dan membuatbahandiskusi.
  2. InstrumenPenelitian,meliputi:
    1. Lembarobservasikeaktifansiswa
    2. Lembarobservasipelaksanaan metode  pembelajaran       discovery
    3. SoalTesuntukmengukurkompetensikognitifsiswa

 III.        HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Berdasarkanpenelitian yang sudahdilakukanselamatiga siklus, diperolehhasil yang berbeda pada setiapsiklusnya. Pengukurankeaktifanpesertadidikdilakukandenganmenggunakanlembarobservasi yang diisi oleh observer. Data keaktifansiswa pada siklus I mencapai65,81%, pada siklus II mencapai78,71% dan mengalami peningkatan pada siklus III mencapai 90,32%.Berikutdiuraikanlebihrincimengenaipersentasekeaktifansiswa pada setiapsiklusnya:

 

  1. Siklus I

Pada saatdiberi treatment kepadasiswaberupapenerapan modelpembelajaran discovery learning pada siklus I, persentasekeaktifansiswamencapai65,81%. Pada oral activities yang bertanyaselama kegiatan pembelajaran di googlemeet maupun di diskusi vcall whatsapp sebanyak12siswa. Pada oral activities yang mengemukakanpendapatsaatdiskusisebanyaksebelassiswa.

Sedikitnyasiswa yang bertanyakepada guru didugakarenasiswakebingunganuntukmenanyakan yang seharusnyaditanyakan. Sehinggasiswamemilih diam dan mendengarkansaja yang ditanyakansiswa lainpada guru. Untukbertanyakepadatemanmasihsedikitdidugakarenasiswamasihmeragukanakanjawabanteman dan mungkinmasihkurangpahamapa yang akanditanyakan.

Sebagianbesarsiswasudahmemperhatikan guru saatmenyampaikanmateripelajaran. Kemudianhanya 22siswa yang membacabukumateripelajarandidugasiswayang tidak membaca bahan ajar lebihpercaya pada temansekelompok yangmembacabuku dan lebihmemilihmendapatkanjawabandaritemandaripadamembacasendiri.

Pada listening activities yang mendengarkantemanberbicarasaatdiskusisebanyak30siswa.Saatsesidiskusikelompoksiswasuda banyak yang mendengarkanteman yang sedangberbicara, halinididugadiskusi kelompok secara online melalui vcall whatsapp dalam mengikutijalannyadiskusiuntukpenemuan.

Pada writing activities yang mencatatmateripelajaransebanyakdua puuh satusiswa. Hal inididugasiswayang tidak mencatat, malas mencatatkarenamaterinyasudahada di bukumaterimereka. Kemudian pada writing activities yang merangkummateridaridiskusisebanyakdelapansiswa. Hal initermasuksedikit dan didugasiswalebihmengandalkansiswa lain dalamkelompokuntukmembuatrangkuman.

Pada drawing activities terdapat 5 siswa yang tidak menggambar/ membuatgrafik/ bagan/ diagram tentangmateri, Hal inidisebabkansiswasudahmempunyaigambar pada bukureferensimereka, sehinggasiswa malas untukmenggambarulang

Pada motor activities yang dilaksanakan peserta didik yaitu mengerjakan LKPD pada platform Googleform. Pada mental activities yang ikutmemecahkanmasalahdalamdiskusisebanyaktiga belassiswa. Hal inimenunjukkanantusiassiswasaatdiskusisaat proses penemuankurang.

Pada emotional activities yang bersemangat mengikuti pembelajaran ada enam belas orang, karena kemungkinan mereka terbiasa menendapatkan model pembelajaran dengan metode ceramah, sehingga mereka sedikit agak bingung menerima model baru ini yang menggunakan model dicovery learning.

Beberapakelemahan yang ada pada siklus I didugasiswamasihmaluuntukmengungkapkanpendapatnya dan masihkurangantusiasuntukmengikutipembelajaran. Sehinggasiswalebihmemilih diam dan menunggusiswa lain aktifdalampembelajaran. Selainitusiswabelumterbiasadengan modelpembelajarandiscovery learning, sehinggamasihperluberadaptasiuntukmenyesuaikanpelaksanaanpembelajarandengan modeldiscovery learning.

 

  1. Siklus II

Saatdilaksanakannyasiklus II denganmenggunakan modelpembelajarandiscovery learning persentasekeaktifanmengalamipeningkatan yang besaryaitumenjadi 78,71%. Hal inididugasiswasudahterbiasa dan mampuberadaptasidenganpembelajarandengan modelpembelajarandiscoverylearning.

Kelemahansiswa pada siklus II banyakberkurang. pada drawing activities,Untukmenggambar/membuatgrafik dan bagantentangmateripelajaransebanyakenamsiswa tidak mengerjakan. Hal inimengalamipeningkatandibandingsiklussebelumnya, namunmasihkurangkarenamasihbanyaksiswa yang tidakmenggambarmateripelajaran. Hal inidisebabkansiswasudahmempunyaigambar pada bukureferensimereka, sehinggasiswa malas untukmenggambarulang.

Pada visual activities terjadinyapeningkatan di tiap-tiapindikator. Untukmemperhatikan guru yang sedangmenerangkansebanyakduapuluhsembilansiswa. Kemudianuntukmembacabuku/referensidarimateripelajaransebanyakduapuluhsembilansiswa. Peningkatan pada visual activities inidisebabkan oleh bertambahnyaantusiassiswauntukmengikutipembelajaran, karenasiswasudahbisaberadaptasidenganpembelajaran yang menggunakanmetodediscoverylearning.

Pada oral activities juga mengalamipeningkatandibandingkandengansiklussebelumnya. Untukbertanyasaatdiskusimeningkatmenjadiduapuluhtigasiswa. Untukmengemukakanpendapatsaatdiskusisebanyakduapuluhtigasiswa. Terjadinyabanyakpeningkataninidisebabkan pada pertemuansebelumnyasudahdiberitahukanapa yang akandipelajari, sehinggasiswabisamembacamateri yang akandipelajari. Denganbegitusiswasudahmempunyaibekaluntukmengikutipembelajaran dan bisalebihaktifsaatpembelajaranberlangsung.

Pada listening activities juga mengalamipeningkatan pada siklusII. Kemudianuntukmendengarkansiswa lain berbicarasaatdiskusisebanyakduapuluhdelapansiswa. Peningkatan pada listening activities inidisebabkansiswalebihantusiasdalammengikutipembelajarandibandingkan pada siklussebelumnya. Hal inidikarenakansiswasudahterbiasadengandigunakannyametodepembelajarandiscoverylearning.

Pada writing activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya. Untukmencatatmateripelajaransebanyakdua puluh empatsiswa. Namunpeningkatantersebutbelummaksimal Hal inididugasiswasudahmempunyai data materi pada bukureferensimerekasehingga malas untukmencatatulang.

Pada motor activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya. Untukmengerjakan soal LKPD dan mengirimkannya ke googleclassroomsebanyakduapuluhdelapansiswa.Halinidisebabkansiswalebihsemangatdalammengikutipembelajarankarenasudahmemahamipelaksanaandarimetodepembelajarandiscovery learning.

Pada mental activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya, dimanasiswaikut dalam memecahkan masalah pada saat berdiskusi kelompok, dalam pembelajaransebanyakenam belas siswa. Peningkataninidisebabkansiswalebihantusiasdalammengikuti proses penemuankarenasiswasudahmempunyaibekalsebelumnya.

Kemudian pada emotional activities peningkatan juga terjadi. Peningkatan pada emotional activities inidisebabkan oleh siswasudahlebihsemangat dan aktifdalammengikutipembelajarankarena sudah dapat mengikuti pola pembelajaranya..

Berdasarkan data yang diperolehdarisiklus II, tiap-tiapindikatorsudahmengalamipeningkatan. Sehinggadapatdikatakanpembelajaran yang berpusatkepadasiswasudahberhasil. Denganbegitutujuanpembelajaransudahtercapai pada siklus II, akan tetapi karena peneliti ingin mendapatkan kriteria sangat baik dalam keaktifan peserta didik, makapenelitiandapatdilanjutkan pada siklusIII.

 

  1. Siklus III

Saatdilaksanakannyasiklus IIIdenganmenggunakan modelpembelajarandiscovery learning persentasekeaktifanmengalamipeningkatan yang besaryaitumenjadi90,32%. Hal inididugasiswasudahterbiasa dan mampuberadaptasidenganpembelajarandengan modelpembelajarandiscoverylearning karena pengalaman belajar mereka pada pembelajaran di siklus I dan II.

Kelemahansiswa pada siklus IIIbanyakberkurang, semua peserta didik yang hadir pada pembelajaran di siklus III ini beberapa indikator tercapai 100%, seperti jenis aktivitas visual activities, Drawing activities, Motor activities dan Emotional activities. Semua siswa memperhatikan guru pada saat menerangkan, semua siswa membaca buku modul, menggambar/membuat grafik/bagan/diagram tentang materi, semua siswa mengerjakan LKPD pada saat berdiskusi kelompok dan semua siswa bersemangat dalam proses pembelajaran, activities inidisebabkan oleh bertambahnyaantusiassiswauntukmengikutipembelajaran.

Untukbertanyasaatdiskusimeningkatmenjadidua puluh delapansiswa. Untukmengemukakanpendapatsaatdiskusisebanyakduapuluhenamsiswa. Terjadinyabanyakpeningkataninidisebabkan pada pertemuansebelumnyasudahdiberitahukanapa yang akandipelajari, sehinggasiswabisamembacamateri yang akandipelajari. Denganbegitusiswasudahmempunyaibekaluntukmengikutipembelajaran dan bisalebihaktifsaatpembelajaranberlangsung.

Pada listening activities juga mengalamipeningkatan pada siklusII. Kemudianuntukmendengarkansiswa lain berbicarasaatdiskusisebanyaktiga puluhsiswa. Peningkatan pada listening activities inidisebabkansiswalebihantusiasdalammengikutipembelajarandibandingkan pada siklussebelumnya. Hal inidikarenakansiswasudahterbiasadengandigunakannyamodel pembelajarandiscoverylearning.

Pada writing activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya. Untukmencatatmateripelajaransebanyakdua puluh delapansiswa. Namunpeningkatantersebutbelummaksimal Hal inididugasiswasudahmempunyai data materi pada bukureferensimerekasehingga malas untukmencatatulang.

Pada motor activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya. Untukmengerjakan soal LKPD dan mengirimkannya ke googleclassroomsebanyaktiga puluhsiswa.Halinidisebabkansiswalebihsemangatdalammengikutipembelajarankarenasudahmemahamipelaksanaandarimetodepembelajarandiscovery learning.

Pada mental activities juga mengalamipeningkatandibandingkansiklussebelumnya, dimanasiswaikut dalam memecahkan masalah pada saat berdiskusi kelompok, dalam pembelajaransebanyakdua puluh dua siswa. Peningkataninidisebabkansiswalebihantusiasdalammengikuti proses penemuankarenasiswasudahmempunyaibekalsebelumnya.

Berikutmerupakangrafikpeningkatansetiapsiklusnya:

Gambar 1. Grafik Peningkatan  keaktifan peserta didik

Dari grafik di atasdapatdijelaskanbahwaPeningkatankeaktifansiswaditunjukkandenganmeningkatnyapersentasekeaktifanbelajarsiswa. Pada siklus I persentasekeaktifansiswamencapai65,81%. Kemudian pada saatdilanjutkan pada siklus II, persentasekeaktifansiswameningkatmenjadi78,71%, Peneliti kemudian melanjutkan ke siklus III dengan memperoleh persentase keaktifan siswa sebesar 90,32%. Hal inimenunjukkanpersentasekeaktifansiswamengalamipeningkatan dan mencapaiindikatorkeberhasilan yang telahditentukan.

Secarakeseluruhanhasilpenelitianmenunjukkanbahwa penerapanstrategipembelajaran Discovery Learning mampumeningkatkankeaktifan dan hasilbelajarsiswadaripenelitiansiklus I sampaisiklus III. Pada pertemuanpertamasiklus I siswamasihterasabingungdenganpenerapanstrategi Discovery Learning karenasiswabelumterbiasa dan belummemahamistrategipembelajaranini, Pada pertemuanke II dan IIIpenelitiberupayauntuklebihmenekankan pada siswadalampembelajaran di dalamkelasmelaluistrategi Discovery Learning, pembelajaraninimulaiberjalanlebihbaikdibandingdaripadapertemuanpertama. Penelitilebihmemberikanmotivasi pada siswasehinggamenimbulkankeaktifanbelajar yang lebihbaiksehinggasiswasemakinmudahdalammenerimamateripembelajarandenganstrategi Discovery Learning ini

Berdasarkanpenelitian yang telahdilakukandidapatkanhasil yang menunjukkanbahwapenggunaanmodelpembelajarandiscovery learning pada kelasXII IPA 4dapatmeningkatkankompetensikognitifsiswa pada matapelajaranMatematika materi Statistika.Rinciannilaikompetensikognitifsiswadapatdilihat pada tabelberikutini:

 

 

Tabel 1. Peningkatan kompetensi Kognitif siswa

Nilai kognitif siswa

Pra siklus

Siklus 1

Siklus 2

Siklus 3

Nilai Terendah

25

12,5

25

25

Nilai Tertinggi

85

95

97,5

100

Jumlah Siswa Tuntas

9

19

24

26

Jumlah Siswa Belum Tuntas

22

12

7

5

Rata-rata

53,87

62,74

74,92

80,89

Persentase Ketuntasan (%)

29,03 %

61,29 %

77,42%

83,87%

 

Berdasarkantabel di atas pada prasiklus yang sebelumdiberikantreatment,post test yang diikuti 31 siswasebanyak 22siswabelumtuntas dan 9siswatuntasdengannilaitertinggi 85 dan nilaiterendah25. Pada siklus Iyang diberikantreatment, post testyang diikuti 31 siswasebanyak 12siswabelumtuntas dan 19siswatuntasdengannilaitertinggi95 dan terendah12,5. Kemudian pada siklus II yang diberikantreatment, post testyang diikuti 31sebanyak7siswabelumtuntas dan 24siswatuntasdengannilaitertinggi 97,5 dan terendah25. dilanjutkan pada siklus III yang diberikantreatment, post testyang diikuti 31sebanyak5siswabelumtuntas dan 26siswatuntasdengannilaitertinggi100 dan terendah25

Peningkatankompetensikognitifsiswadapatdilihat pada rata- rata nilaikelas dan peningkatanpersentaseketuntasansetelahdiberikantreatment.Sebelumdiberikantindakanrata-ratanilaikelasmencapai53,87.dan persentaseketuntasanmencapai29,03%. Pada siklus I rata-rata nilaikelasmencapai62.74 dan persentaseketuntasanmencapai 61,29%. Kemudian pada siklus II rata-rata nilaikelasmencapai74,92 dan persentaseketuntasanmencapai77,42, dan pada siklus III rata-rata nilaikelasmencapai80,89 dan persentaseketuntasanmencapai83,87%.sehinggadapatdikatakanbahwapenggunaanmodelpembelajarandiscovery learning dapatmeningkatkannilaikompetensikognitifsiswa.

Penelitianinisesuaidenganpenelitian yang dilakukan oleh Nasrullah (2016) yang mengungkapkanbahwapenggunaan discovery learning dapatmeningkatkankompetensikognitifsiswa. Selainitupenelitianini juga senadadenganpenelitian yang Farhatani (2014) yang menyatakanbahwapenggunaanmodel discovery learning dapatmeningkatkankompetensisiswaaspekkognitif.

Berdasarkananalisis data hasilpengamatan dan analisishasil, makadapatdisimpulkanbahwapenerapan model discovery learning pada materi Statistika dapatmeningkatkankompetensi kognitif siswaXII IPA 4 di SMAN 3 Cikarang Utara pada matapelajaranStatistika.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkanhasilpenelitiantindakan yang telahdilakukan pada matapelajaranStatistika pada siswa kelas XII IPA 4,bahwa Penggunaanmodelpembelajarandiscovery learning dapatmeningkatkankeaktifansiswakelasXII IPA 4 di SMAN 3 Cikarang Utara pada matapelajaranStatistika Hal inimenunjukkanpersentasekeaktifansiswamengalamipeningkatan dan mencapaiindikatorkeberhasilan yang telahditentukan. Serta mengalami Peningkatankompetensikognitifdilihat pada rata- rata nilaikelas dan peningkatanpersentaseketuntasansetelahdiberikantreatment. Hal ini mendorong guru untukmenerapkanmodelpembelajarandiscovery learning inisebagai salah satualternatifpembelajaran. dalamupayauntukmeningkatkankualitaspembelajaran di sekolah, selain itu juga Guru hendaknyamencoba model pembelajarankooperatiflainnyadengancaramenerapkan model pembelajaransepertiproblem based learning, inquiry learning, jigsaw, dan lain- lain untukmeningkatkankeaktifan dan kompetensikognitifsiswa

 

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan.  2008.  Kamus Besar Bahasa Indonesia.  Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 1988.  Pengelolaan Siswa & Kelas (Sebuah Pendekatan Evaluatif).  Jakarta: W. Rajawali.

Arikunto, S, dkk. 2007. PenelitianTindakan Kelas. Jakarta: BumiAksara.

  1. Hosnan, Pendekatan                          Saintifik     dan     Kontekstual     dalamPembelajaran Abad 21, (Bogor:Ghalia Indonesia, 2014)

Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Hanafiah, N. (2012). KonsepStrategiPembelajaran. Bandung: RafikaAditama.

Harsanto, Ratno.  2007.  Pengelolaan Kelas yang Dinamis.  Yogyakarta: Kanisius.

Lie, Anita.   2004.  Cooperative Learning.  Jakarta: Grasindo.

Mujib, Fathul. 2012.  Super Power Educating.  Jogjakarta: Diva Press.

Purwanto, M.N. (2013). Prinsip-Prinsip dan Teknik EvaluasiPengajaran.Bandung: PT RemajaRosdakarya

Rusman. (2014). Model-Model Pembelajaran. Jakarta: PT RajaGrafindoPersada.

Sardiman A.M. (1992). Interaksi&MotivasiBelajarMengajar. Jakarta: Rajawali

Siberrnen, Mel.  2001.  Strategi Pembelajaran Aktif.  Jakarta; Yakpendis.Yogyakarta.

Sumini, Th. 2017. Penelitian Tindakan kelas dan pengembangan Profesi Guru. https://usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal%20Historia%20Vitae/vol24no1april2010/PENELITIAN%20TINDAKAN%20KELAS%20Th%20sumini.pdf

Suyanto. 1997. Pedoman PelaksanaanPenelitianTindakan Kelas (PTK)., Bagiansatu. Jakarta: DirjenDiktiDepdikbudProyek Pendidikan Tenaga AkademikBagianPengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (BP3GSD).

Suyatno.  2009.  Menjelajah Pembelajaran Inovatif.  Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Syah,M.(2010).PsikologiPendidikandenganPendekatanBaru.Bandung:RemajaRosdakarya.

Trianto, Mendesain Model PembelajaranInovatif-Progresif, edisi 4, (Jakarta: KencanaPrenada Media Group, 2009), hlm 53.

Undang- UndangRepublik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 TentangSistemPendidikan Nasional.

Yamin, M. (2007). KiatMembelajarkanSiswa. Jakarta: GaungPersada Press


                     

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Strategi Komunikasi (Pengertian, Teknik, Langkah dan Hambatan)

Apa itu Strategi Komunikasi?  Strategi komunikasi adalah perencanaan dalam penyampaian pesan melalui kombinasi berbagai unsur komunikasi seperti frekuensi, formalitas, isi dan sal

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 46225 kali
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI MATRIKS DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN FLIPPED CLASSROOM Syahyudin Program Studi Pendidikan Matematika PPG PT-Unive

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 973 kali
IMPROVING STUDENTS WRITING SKILL OF STATING INTENTION USING AUDIO VISUAL OF THE FIRST GRADE STUDENTS OF X IPA 6 AT SMAN 3 CIKARANG UTARA IN THE 2020/2021 ACADEMIC YEAR

IMPROVING STUDENTS WRITING SKILL OF  STATING INTENTION  USING AUDIO VISUAL OF THE FIRST GRADE STUDENTS OF X IPA 6 AT SMAN 3 CIKARANG UTARA IN THE 2020/2021 ACADEMIC YEAR &nbs

15/03/2020 19:18 - Oleh Administrator - Dilihat 1315 kali